Tentang Kami

Kapal Antasena

Didirikan pada bulan Maret 2009, awalnya Antasena adalah nama sebuah perahu kayu yang berukuran 10m x 2m yang berfungsi utamanya adalah untuk memancing ikan. Sering kali banyak pelanggan dari para mania mancing yang menggunakan jasa perahu ini untuk memancing di area sekitaran Kepulauan Seribu seperti P, Bokor, P. Pari, P, Rambut, P. Tikus, P. Kotok, dan lain-lain. Sedangkan apabila tidak ada pelanggan, sehari-harinya dipakai oleh para nelayan setempat untuk mencari nafkah memancing ikan. Namun seiring dengan perkembangan situasi dan kondisi keadaan, memungkinkan kapal Antasena ini melayani jasa selain memancing seperti jasa transportasi antar pulau maupun jasa sewa kapal untuk kegiatan snorkeling maupun diving.

Pada akhir tahun 2010, pembuatan kapal Antasena 2 dimulai. Pembuatannya dilakukan di pantai Tanjung Pasir selama lebih kurang 3 bulan. Dengan memakai material kayu yang baik seperti kayu wali kukun dan kiliang untuk lunasnya, kayu laban untuk tulang/gading dan kayu mentru sebagai papan untuk badan kapalnya. Panjang 14m lebar 3 meter serta berat kosong 4 ton. Kapal ini dirancang bangun sesuai dengan standar aturan dan ilmu perkapalan sehingga dapat digunakan untuk melayani angkutan penumpang mencapai kapasitas 50-60 orang beserta barang secukupnya. Sangat cocok dan aman untuk kegiatan snorkeling/diving.

Sejarah Antasena

Antasena adalah putra bungsu Bimasena atau Wrekodara, yaitu Pandawa nomor dua. Ia lahir dari seorang ibu bernama Dewi Urangayu putri Batara Mintuna. Bima meninggalkan Urangayu dalam keadaan mengandung ketika ia harus kembali ke negeri Amarta.
Antasena lahir dan dibesarkan dalam naungan ibu dan kakeknya. Setelah dewasa ia berangkat menuju Kerajaan Amarta untuk menemui ayah kandungnya. Namun saat itu Bima dan saudara-saudaranya sedang disekap oleh sekutu Korawa yang bernama Ganggatrimuka raja Dasarsamodra.
Antasena berhasil menemukan para Pandawa dalam keadaan mati karena disekap di dalam penjara besi yang ditenggelamkan di laut. Dengan menggunakan Cupu Madusena pusaka pemberian kakeknya, Antasena berhasil menghidupkan mereka kembali. Ia juga berhasil menewaskan Ganggatrimuka. Antasena kemudian menikahi sepupunya yang bernama Janakawati putri Arjuna.

Antasena digambarkan berwatak polos dan lugu, namun teguh dalam pendirian. Dalam berbicara dengan siapa pun, ia selalu menggunakan bahasa ngoko sehingga seolah-olah tidak mengenal tata krama. Namun hal ini justru menunjukkan kejujurannya di mana ia memang tidak suka dengan basa-basi duniawi. Dalam hal kesaktian, Antasena dikisahkan sebagai putra Bima yang paling sakti. Ia mampu terbang, amblas ke dalam bumi, serta menyelam di air. Kulitnya terlindung oleh sisik udang yang membuatnya kebal terhadap segala jenis senjata

Antasena Wisata

Untuk menjawab permohonan dari kalangan pencinta bahari khususnya dari daerah Tangerang provinsi Banten dan Jakarta sebelah barat dan sekitarnya, maka Antasena Wisata ini dilahirkan. Dengan memfokuskan diri pada keselamatan dan keamanan yang terjamin, kenyamanan selama trip berlangsung serta pelayanan yang ramah dan profesional diharapkan akan dapat memuaskan para pelanggan. Bilamana ada ketidak-puasan atau kenyamanan anda merasa terganggu silahkan dikirimkan feedback dan ditujukan ke alamat email: antasena_wisata@yahoo.com. Kami akan segera menindak-lanjuti sesuai permohonan Anda.